Dalam rangka kegiatan pengabdian masyarakat, mahasiswa SIK mengunjungi Pelabuhan Nusantara Karangantu. Mengutuip dari Indonesia Kaya,Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan terbesar kedua setelah Pelabuhan Sunda Kelapa di Jayakarta ungkap Tom Pires, seorang pedagang yang juga ahli obat-obatan dari Portugal. Hal ini tercatat dalam buku “Mengenal Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kota Banten Lama” oleh Uka Tjandrasasmita, Hasan M Ambary, dan Hawany Michrob.

Pada abad 16, pelabuhan ini menjadi tempat persinggahan para pedagang sebelum melanjutkan perjalanan ke benua Australia. Bahkan, Belanda saat pertama kali masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1596 memakai jasa pelabuhan ini untuk berlabuh. Masih dari buku yang sama, disebutkan Gubernur Belanda Jan Piterzoon Coen pernah membuat catatan soal perahu Tiongkok yang membawa barang senilai 300.000 real di Karangantu. Pelabuhan Karangantu tidak hanya tercatat dalam buku, namun peninggalan barang berharga yang pernah diperjualbelikan dapat dilihat di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Nama Karangantu sendiri menurut mitos yang beredar di masyarakat lahir karena saat itu ada seorang Belanda yang membawa guci berisikan hantu. Hingga suatu hari guci itu pecah dan hantu yang di dalamnya keluar. Mulai saat itulah pelabuhan yang telah berganti menjadi kampung nelayan ini diberi nama Pelabuhan Karangantu.

Sekarang,Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu menjadi daya tarik. Dermaga yang menjorok ke laut itu, seolah menjadi tujuan wisata baru yang murah meriah bagi warga. Setiap sore, tidak sedikit warga yang berkunjung untuk menikmati matahari tenggelam di lokasi yang sangat terbuka dengan pemandangan laut yang luas.  Pada hari libur, dermaga ini bahkan sudah dipadati para pemancing sejak pagi buta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *